Degradasi Jumlah Taman Kota Semarang

Well, that’s the truth…

Jumlah taman kota yang ada di Semarang memang terus mengalami penurunan… Nyesek banget ya ngedengernya??

Data dari BPS Kota Semarang (tahun 2007) itu menunjukkan taman kota yang aktif berkurang dari 41 buah pada tahun 2002 menjadi 36 buah pada tahun 2006, atau dari luas 72.954 meter persegi, menjadi 50.203 meter persegi.

Dari taman-taman kota yang ada di Semarang, setidaknya ada sepuluh ruang publik yang berubah fungsi di Semarang, di antaranya: Alun-alun, Taman Seteran, fasum Semarang Utara, sebagian Taman Sompok, sebagian Taman Beringin, Taman Seroja, taman di Jalan Siliwangi, sebagian Taman Tabanas, taman di Jalan Pandanaran, taman di Jalan S Parman. Sebenarnya taman KB di Jalan Menteri Supeno dulu di zaman Gubernur Pak Suwardi juga akan dijadikan Gedung PWRI. Namun protes gencar mengurungkan rencana tersebut.

Perubahan ruang-ruang publik tersebut memang dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas penduduk Kota Semarang itu sendiri. Atmosfir bisnis dan laju pertumbuhan ekonomi yang bagus beberapa tahun terakhir ini memacu para investor untuk menciptakan lahan bisnis yang baru di tempat-tempat strategis. Namun, tempat-tempat yang biasanya menjadi incaran tersebut justru adalah taman-taman kota yang sudah ada dan menjadi fasilitas publik masyarakat. Selain itu, pertumbuhan penduduk yang pesat di Semarang yang dipengaruhi oleh tingkat kelahiran,tingkat commuter, dan tingkat migrasi  yang masuk ke Semarang juga mempengaruhi perluasan lahan pemukiman di Semarang yang lagi-lagi juga mengorbankan lahan terbuka yang ada.

Keadaan itu memang serba salah di masing-masing pihak. Pertumbuhan yang baik memang menjadi pemacu semangat yang baik pula untuk ke depannya nanti. Namun dampak domino dari pertumbuhan yang mengorbankan taman kota seperti yang sudah disebut diatas juga perlu diperhatikan secara serius. Kesadaran pemerintah dan masyarakat umum itu sendiri akan betapa pentingnya ruang terbuka hijau, taman kota, serta fasilitas publik yang berkaitan masih terasa kurang. Banyak janji dan rencana-rencana yang diprogramkan pemerintah namun realisasinya selalu mengecewakan karena lambatnya tindak lanjut dari semua program tersebut.

Perkembangan pesat di Kota Semarang ini harus dikendalikan jika tidak ingin merasakan bencana yang terus terjadi di sini. Semarang mesti berkaca kepada kegagalan Jakarta. Di Jakarta keserakahan ekonomipolitik, dibalas dengan kehadiran banjir, polusi, kemacetan luar biasa, krisis air tanah, kriminalitas, dan berbagai konflik sosial lainnya.

 

 

Taman di depan BI Semarang

Taman di depan BI Semarang

One sentence to complete our post this time,,

“SAVE OUR CITY GARDEN!!”

Keep Breathing

Comments (7) »

RUANG TERBUKA HUTAN SEBAGAI LANGKAH STRATEGIS MENINGKATKAN KUALITAS UDARA DI KOTA SEMARANG

Kualitas udara ambien Kota Semarang masuk kategori sedang. Artinya, udara tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan, tapi pada tumbuhan dan nilai estetika. Kategorisasi itu berdasarkan indeks standar  pencemar udara atau ISPU. ISPU menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu, yang didasarkan pada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika, dan makhluk hidup lainnya. ISPU Kota Semarang diperoleh dari hasil   pantauan stasiun pemantau di Tugu, Banyumanik, dan Pedurungan. Dalam lima tahun terakhir, ISPU ratarata per tahun mencapai angka 55,54. (Kompas edisi 01 September 2006).
Kualitas udara tidak sehat jika ISPU menunjukkan angka lebih dari 100. Meski demikian, tidak berarti masyarakat boleh bernapas lega. Pasalnya, ada waktu di mana pencemaran mencapai puncaknya, terutama saat transportasi padat. Bahkan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional memasukkan  Semarang dalam enam kota di Indonesia dengan kualitas udara mengkhawatirkan. Udara bersih hanya dapat dinikmati antara 22 sampai 62 hari dalam setahun.  Pencemar udara terbesar dari sektor transportasi dan industri. Jumlah kendaraan bermotor sebanyak 780.000 unit dan tingkat pelanggaran penanganan cerobong asap di 2.600 industri relatif tinggi. Semua ini tidak sebanding dengan kemampuan alam menetralisasi racun di udara. (Kompas edisi 01 September 2006).
Dalam pembangunan perkotaan yang pesat seiring pesatnya laju pertumbuhan penduduk kota, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan ruang-ruang terbuka hijau sebagai unsur kota dan merupakan kebutuhan mutlak bagi penduduk kota. Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan yang ideal adalah keseimbangan koefisien penggunaan tata ruang yang memadai antara luas perkotaan dan pertambahan penduduk.
Kota Semarang yang merupakan Kota Metropolitan berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa dengan luas wilayah 37.360,947 hektare diharapkan mampu mempertahankan RTH sebagai upaya melestarikan lingkungan. Berdasarkan Perda Nomor 5 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang Tahun 2000-2010, rencana penyediaan ruang terbuka hijau kota (konservasi) masih cukup menjanjikan dengan persentase sebesar 32 % (data ini belum terhitung terkait garis sempadan yang telah ditetapkan). Namun demikian, harus menengok ke belakang, persentase ini terdukung karena pada 1976 Kota Semarang mendapatkan “hibah” perluasan daerah hinterland Kota Semarang yang sebagian kondisi eksisting lahannya adalah konservasi. Ini tentunya harus dipertahankan, khususnya kawasan Semarang bagian bawah. (M Farchan, 2006).
Sesuai konsep rencana tata ruang terbuka hijau perkotaan, maka ada dua fungsi yaitu utama (intrinsik) dan tambahan (ekstrinsik). Yang utama yakni fungsi      ekologis, sedangkan untuk tambahan adalah fungsi arsitektural, ekonomi, dan sosial. Dalam wilayah perkotaan, fungsi itu harus dapat dikombinasikan sesuai kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota. RTH berfungsi ekologis adalah untuk menjamin keberlanjutan suatu kawasan kota secara fisik, yang merupakan bentuk rencana berlokasi, berukuran, dan  berbentuk pasti dalam suatu kota. Adapun fungsi tambahan adalah dalam rangka mendukung dan menambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota. Dengan begitu dapat berlokasi sesuai kebutuhan dan kepentingannya, misalnya keindahan (taman), rekreasi (lapangan olahraga), dan pendukung lanskap kota.
Hal ini dapat dijadikan pemikiran bahwa untuk kota tropis seperti Semarang, ruang terbuka harus ditanami dengan rumput atau pepohonan untuk menurunkan suhu yang panas. Apabila ruang terbuka ditutup dengan material keras maka suhu kota akan naik dan kebutuhan akan suhu nyaman tidak akan pernah tercapai. Taman kota merupakan bagian dari ruang terbuka hijau (RTH). Menurut de Chiara & Lee Kopellman dalam Sukawi (2006), RTH berfungsi untuk mempertahankan karakter kota dengan fungsi sebagai hutan kota dan taman kota. Taman kota merupakan wahana keanekaragaman hayati yang harus diupayakan menjadi suatu komunitas vegetasi yang tumbuh dilahan kota dengan struktur menyerupai hutan alam dan membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa.
Tidak adanya taman kota yang memadai untuk beraktivitas menyebabkan banyak masyarakat yang memanfaatkan fasilitas umum tidak pada tempatnya. Sering kita jumpai anak-anak bermain sepakbola di jalanan yang dapat mengganggu pemakai jalan. Pemerintah lebih mengutamakan pembangunan mal-mal, hotel, dan semacamnya hanya untuk keuntungan belaka tanpa memikirkan nilai-nilai sosial yang lebih penting. Namun, pembangunan taman kota perlu disertai dengan peraturan guna menghindari para PKL dan tunawisma mengotori dan mengganggu kenyamanan dan keindahan taman kota.
Untuk meningkatkan kualitas udara Kota Semarang yang semakin panas, beberapa hal yang penting untuk dilakukan adalah menghidupkan kembali /revitalisasi sarana kota yang terbengkelai, seperti pada bantaran sungai, tepian jalur kereta api, ruang ruang terbuka lainya yang terbuang (the lost space), ruang ruang luar yang merupakan transisi dari elemen kota yang satu ke yang lainya dengan upaya penghijauan yang semaksimal mungkin. Pohon-pohon di sepanjang jalan yang ditebang akibat korban pelebaran jalan dengan dalih untuk mengatasi kemacetan juga harus diganti. Kota Semarang memerlukan banyak taman kota untuk membantu menurunkan suhu lingkungan.
Cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas udara Kota Semarang adalah:
  1. Ruas jalan yang sudah didominasi dengan beton dan aspal perlu dilindungi dari matahari langsung dengan penanaman pohon di sepanjang tepi jalan.
  2. Menggalakkan gerakan penghijauan (misalnya penanaman sejuta pohon) untuk menghindari berkurangnya vegetasi dalam lingkungan kota. Penanaman ini dapat dilakukan di taman-taman kota, koridor jalan, pembatas jalan sehingga dapat membantu mengurangi suhu dan membuat kota lebih sejuk dan hijau. Pepohonan mempunyai potensi besar untuk mendinginkan kota dengan cara meneduhkan dan melakukan proses ”evapotranspirasi”. Proses ini terjadi ketika tanaman mengeluarkan uap air lewat pori-pori daun layaknya manusia yang mengeluarkan keringat. Vegetasi sangat bermanfaat untuk merekayasa masalah lingkungan perkotaan baik dari aspek estetika, mengontrol erosi tanah dan air tanah, mengurangi polusi udara, mengurangi kebisingan, mengendalikan air limbah, mengontrol lalu lintas dari kesilauan cahaya matahari maupun cahaya yang lainnya dan dapat mengurangi bau tidak sedap dari sampah. Tanaman buah-buahan akan menjadi  pilihan Pemerintah Kota Semarang untuk menghijaukan arealnya terutama di bantaran sungai, lahan kosong, dan permukiman. Ini untuk meningkatkan partisipasi warga   dalam memelihara kehijauan kota.  “Selama ini, paradigma tanaman perindang hanya berupa kayu akasia atau mahoni. Mengapa tak dikembangkan   tanaman buah-buahan yang bermanfaat bagi masyarakat  sendiri?” ujar Sekretaris Tim Teknis Penyusunan Rencana Tata Ruang Hijau (RTRH) Kota Semarang Budi Prakosa, seperti dikutip dari Kompas edisi  Rabu, 13 September 2006.   
    Dengan penanaman buah-buahan ini, kata Budi, kesadaran masyarakat untuk menjaga ruang hijau kota dapat   diciptakan. Dicontohkan, penanaman tanaman jambu air disepanjang Kali Jajar Kabupaten Demak oleh warga  setempat. Warga setempat sangat menjaga pepohonan itu  karena hasil panen jambu air mendatangkan peningkatan kesejahteraan hidup. Budi contohkan penanaman tanaman buah-buahan di bantaran Kali Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat. Selanjutnya, warga di sekitarnya dapat mengelola tanaman  itu. “Ini juga dapat menghindari adanya lahan kosong milik pemkot agar tak diduduki orang lain (ilegal). Karena,  pengawasan dilakukan warga setempat,” ujar Budi, staf   Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang. Saat memberikan laporan pendahuluan RTRH Kota Semarang, Untuk itu program resik-resik kutho perlu diteruskan.
  3. Mewajibkan setiap rumah tangga untuk menanam satu pohon di halaman rumah. Terutama untuk jenis pohon yang produktif seperti pohon buah-buahan. Pemkot Semarang juga dapat memberikan reward kepada peran serta masyarakat dan swasta yang mempunyai perhatian terhadap penghijauan, keindahan taman kota dan lingkungan. Penghargaan ini dapat berupa hadiah untuk pemeliharaan, atau keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sehingga memacu warga kota untuk berpartisipasi.
  4. Menegakkan aturan dengan punishment tentang peraturan bangunan setempat, diantaranya Koefisien Dasar Bangunan (KDB) untuk semua bangunan sehingga ada ruang terbuka (open space) dalam setiap tapak yang akan bermanfaat untuk penanaman pohon atau penghijauan.
    Keberadaan taman kota sangatlah penting bagi kenyamanan warga yang ingin melakukan kegiatan refreshing atau sekedar jalan-jalan. Setidaknya keberadaan taman kota dapat mengurangi dampak buruk yang diakibatkan oleh polusi udara. Jika hal ini dibiarkan, masyarakat akan hidup berdampingan dengan udara yang terpolusi. Untuk itu, diperlukan pengendalian diri Pemkot untuk tidak gatal menyulap lahan-lahan hijau menjadi bangunan komersial yang akan membuat Semarang menjadi semakin sumpek. Penanaman pohon merupakan suatu usaha untuk mendinginkan dan menghijaukan kota dengan pengelolaan taman kota, taman lingkungan, jalur hijau dan sebagainya. Apabila semuanya dilakukan bukan mustahil Semarang akan “ijo royo-royo” yang dapat menjadi identitas kota Semarang.     

Daftar Pustaka
Kompas edisi 01 September 2006.
Kompas edisi  Rabu, 13 September 2006.   
M. Farchan. 2006. Rencana Ruang Terbuka Hijau. Suara Merdeka edisi 24 Agustus 2006.
Sukawi. 2006. Mendinginkan Kota Semarang. Seputar Semarang Suplemen Suara Merdeka 20 Juni 2006

 

 

sumber: www.ardansirodjuddin.wordpress.com

Comments (1) »

Peranan Hutan Kota Tropis

23 Juli 2008

  • Oleh Edy Darmawan

KALAU jalan-jalan di kota dalam keadaan panas terik, kita akan merasakan kegerahan dengan keringat berlebihan. Kondisi tersebut mengakibatkan ketidaknyamanan, khususnya bagi pejalan kaki (pedestrian).

Dengan demikian, penghijauan dan hutan kota menjadi penting. Pengunjung bisa berteduh dengan nyaman dan sejuk di kawasan tersebut, yang juga berperan sebagai filter atau paru-paru kota.

Para manajer kota seyogyanya mengevaluasi apakah keberadaan ruang publik seperti penghijauan dan hutan kota masih memadai jumlahnya atau tidak. Penentuan persentase ruang terbuka publik terhadap wilayah kota itu, menjadi masalah penting akhir-akhir ini. Setiap kota, seperti Semarang, mesti bertanya, apakah sudah melakukan evaluasi terhadap ruang terbukanya; apakah sudah memenuhi 30% dari luas wilayahnya; serta apakah memiliki ruang terbuka hijau publik 20% terhadap daerah, baik berupa penghijauan maupun non-penghijauan.

Tuntutan kondisi tersebut sesuai dengan Undang-Undang (UU) 26/2007 Pasal 28 dan 29 tentang Tata Ruang Kota (TRK). Dari evaluasi diri masalah ruas penghijauan kota yang telah banyak dilakukan, menunjukkan belum memenuhi persyaratan secara kuantitatif berkisar 10-15%. Hal itu disebabkan oleh masih banyaknya ruang penghijauan yang belum tersentuh secara menyeluruh.

Berdasarkan terminologi Stephan Carr dalam bukunya Public Spaces, ruang terbuka publik memiliki pengertian sangat luas dan beragam; antara lain berupa taman nasional, pusat kota, taman lingkungan, taman-taman kecil atau taman-taman kecil di lingkungan kota, dan taman di permukiman.

Fungsi ruang publik seperti itu masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal, baik dalam skala kecil maupun besar, sehingga secara kuantitatif masih dapat dikembangkan sebagai taman-taman penghijauan atau hutan kota.

Mengakomodasi Kegiatan

Dari segi kualitatif, ruang-ruang penghijauan tersebut akan dapat memberikan makna atau arti bagi masyarakat individu maupun kelompok. Dengan demikian, bisa diharapkan senantiasa hidup dan mengakomodasi segala kegiatan masyarakat dengan lebih menarik.

Kegiatan-kegiatan masyarakat seyogyanya mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku, seperti penempatan fungsi ruang untuk pedagang kaki lima (PKL), sirkulasi lalu lintas, parkir, tempat sampah, dan pembuangan air limbah.

Kota-kota

Hutan kota memiliki fungsi sebagai paru-paru kota dan dapat menyegarkan kawasan sekitarnya. Kalau ditata dengan baik, akan berfungsi sebagai pusat interaksi dan media komunikasi masyarakat, baik individu maupun kelompok, secara formal maupun informal.

Sayangnya, mencari lahan untuk hutan di daerah pusat kota semakin sulit. Pembangunan hutan-hutan kota, seyogyanya dicari alternatif lain di pinggiran kota; di samping peluangnya mudah, juga berfungsi sebagai barrier pusat kota dan peresapan-peresapan air, terutama bagian daerah atas atau perbukitan kota, seperti di daerah Gombel Semarang.

Upaya-upaya penghijauan bersama masyarakat, swasta, dan pemerintah, perlu penanganan yang terkoordinasi dengan baik agar penataan, jenis, dan perawatan pohon maupun taman dapat diatur dengan indah, teratur, dan estetis.

Kesinambungan taman berkaitan dengan perawatan, seperti pemupukan, pemangkasan, dan peremajaan, dan merupakan kegiatan rutin yang harus dilakukan.

Simpul-simpul

Untuk mengatasi permasalahan penghijauan taman kota diperlukan penataan secara menyeluruh. Hal tersebut tidak dapat diselesaikan dengan sepotong-potong atau perencanaan secara spasial.

Oleh karena itu, diperlukan rencana tata ruang hijau (RTRH) di setiap kota di Indonesia, yang menyangkut berbagai macam aspek teknis penataan zonasi penghijauan, baik perangkat keras maupun lunak dalam desain. Apakah jenis-jenis pohonnya berperan sebagai peneduh, pengarah, pelindung, atau konservasi seperti tanaman langka.

Di samping itu, perlu ditentukan pula simpul-simpul taman (landscape) kota yang dapat memberi daya tarik masyarakat untuk menikmati keindahan taman.
Untuk memberi sentuhan aksesori taman, dibutuhkan elemen-elemen estetis, seperti patung-patung atau binatang secara naturalis atau sculpture yang didesain abstraksi, kadang-kadang dikonfirmasikan dengan unsur air mancur yang menciptakan atmosfer menyegarkan atau unsur kebutuhan yang estetis. Simpul-simpul taman yang disesuaikan dengan pola struktur penempatan kota, akan menciptakan kota yang kompak (compact city).(68)

–  Prof Ir Edy Darmawan MEng, ketua Laboratorium Perancangan Kota dan Permukiman Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip Semarang.

sumber: www.suaramerdeka.com

Comments (1) »

Rasa Kagum Akan Jiwa Anak Muda Peduli Taman

akhirnya,,

ada juga blog yang nayangin tentang TAMAN..!!!
aku terharu…..karena pada akhirnya ada juga orang yang peduli akan keadaan taman ini…!!! pa lagi taman-taman yang berada di kota tercinta, Semarang.

banyak banget taman-taman yang gag keurus atau malah salah kaprah. jadi,,ada taman yang mestinya dibuka untuk umum,,eh,,malah gag pernah disambangin..jangankan disambangin dilirik aja nggak!! ironis banget ya…
tapi, ada juga kebalikannya..(namanya juga Indonesia,,negara Ajaib!! ) taman yang mestinya cuma dilihat,,tapi malah sering dikunjungi orang-orang, yang akibatnya malah ngerusak taman itu sendiri. capek deh…
akhir nya datanglah sekumpulan anak-anak muda yang cakep-cakep, manis-manis, yang tersadar akan kesemrawutan taman kota. dan….terbentuklah blog tentang taman kota. blog itu gak cuma sekedar bukti peduli kita akan taman kota, tapi juga bentuk rasa sayang kita akan dunia yang sedang “sesak nafas” hehehehehe…
tapi,,setidaknya aku bersyukur…kuliah di Plaonologi,, yang bahas tentang keadaan kota. Yah,, jadilah tugas tekom yang ini…
bikin Blog TamanKita…!!!
yeee….
jangan lupa ya..kunjungi blognya (www.tamankita.wordpress.com) kalo emang kamu semua peduli sama taman kota kalian..!!!

Leave a comment »

Warga Diminta Ikut Rawat Taman Kota

SEMARANG - Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang meminta warga untuk ikut merawat taman kota, di jalan protokol maupun di permukiman.

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Masdiana Safitri mengatakan, bentuk partisipasi masyarakat itu antara lain dengan penyiraman dan pemangkasan taman-taman yang ada di dekat permukiman. Kegiatan semacam itu bisa dilakukan dengan cara gotong royong, bersama kecamatan dan kelurahan.

“Mungkin pemangkasan tanaman dapat dilakukan sepekan sekali dan penyiramannya dapat setiap hari yang dilakukan pihak kelurahan bersama-sama warga sekitar,” kata dia.

Menurutnya, perawatan taman kota tidak dapat berjalan tanpa partisipasi masyarakat. Hal itu karena jumlah taman yang ada di Semarang mencapai ratusan. “Tanpa partisipasi warga untuk merawat tanaman, keindahan kota sulit terwujud,” katanya, Senin (26/3).

Bentuk partisipasi warga itu, antara lain dengan cara tidak membuang sampah di dalam taman, atau mengambil tanaman untuk keperluan pribadi.

“Kecamatan atau kelurahan yang ingin mempercantik taman-taman di pemukiman, dapat meminta bantuan kepada kami. Namun dengan catatan jika stok tanaman yang kami milik masih ada,” kata dia.

Masdiana mengatakan, salah satu persoalan yang hingga kini masih dihadapinya adalah ulah tangan jahil. Mereka sering merusak atau mengambil tanaman hias, yang tumbuh di jalan-jalan protokol. “Tidak sedikit tanaman hias yang telah kami tanam, rusak atau hilang akibat ulah mereka. Seingat saya, sekitar 40-50 tanaman yang tersebar di berbagai taman kota di Semarang raib,” ujarnya.

Perawatan taman-taman besar di tengah kota seperti di Bundaran Bubakan, Tugu Muda, dan depan kantor Pertamina UPMS IV merupakan tugas Dinas Pertamanan dan Pemakaman. Proses penyiraman dengan menggunakan mobil tangki atau melalu pipa yang sudah terpasang di dalam taman itu. ”Kami tinggal membuka kran yang ada di taman itu,” kata dia. (H36-74)

sumber: http://www.suaramerdeka.com

Well, sebagai warga yang baik,, kita emang udah seharusnya ikut merawat segala fasilitas publik. Termasuk disitu adalah taman kota yang menjadi milik kita bersama. Jangan hanya cuma mengandalkan tukang sapu dan dinas kebersihannya aja. Dengan ikut merawat taman kota, semua akan berdampak positif kembali pada kita sendiri…

So,, keep breathing…

Leave a comment »

Taman Diponegoro, Semarang

Semarang adalah salah satu kota tropis di Indonesia. Terik matahari sangat terasa panasnya di siang hari. Berkaitan dengan hal tersebut, maka Semarang juga memiliki beberapa ruang terbuka hijau yang jumlahnya masih cukup seimbang dengan luas wilayah di Semarang dan kepadatannya.

Beberapa taman yang dapat dijumpai di Semarang antara lain Taman Tabanas, Taman Tugu Muda, Taman Singosari, Taman KB, Taman Diponegoro dan lain-lain. Masih banyak juga ruang terbuka hijau baik dalam skala besar maupun kecil.

Untuk Taman Diponegoro sendiri, menurut survey yang dilakukan oleh harian Suara Merdeka, merupakan taman yang paling digemari oleh masyarakat Semarang untuk saat ini karena estetika nya. Dibandingkan dengan taman yang lain di Semarang, Taman Diponegoro memang memiliki potensi untuk dimaksimalkan. Di sana sudah memiliki beberapa unsur yang baik seperti tanaman dan pohon yang hijau dan rindang, memiliki bangku taman, lampu taman yang cukup terang.

Namun yang menjadi kendala pada taman tersebut adalah akses dan keterjangkauan ke lokasi tersebut. Taman tersebut memang diletakkan sebagai bundaran jalan dari arah Sultan Agung, Gajah Mungkur, RS Elizabeth, dan menuju pusat kota (Simpang Lima). Dengan adanya arus lalu lintas sibuk seperti itu membuat orang yang ingin menuju Taman Diponegoro menjadi malas dan takut untuk menyebrang.

Usul dari kami, sesaknafas01, jika anda ingin menikmati suasana sejuk dan hijau di sana, parkirkan kendaraan anda di toko Tong Hien atau pertokoan yang ada di seberang Taman Diponegoro. Disana ada cukup lahan parkir sehingga tidak perlu bingung jika anda membawa kendaraan untuk kesana. Selain itu, banyak kegiatan yang bisa dilakukan seperti berolahraga, bermain bersama keluarga atau teman-teman, dan lain-lain. Jadi, anda juga bisa membawa bekal kesana dan jangan lupa untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan.

Let’s make our city garden alive and make it a better place for us!

Keep breathing

Comments (14) »

We Are Sesak Nafas 01

Perkenalkan….

Kami adalah sekelompok anak muda yang berpikiran maju demi masa depan yang lebih baik dan concern terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ruang terbuka hijau. Kami adalah calon planner yang menginginkan wilayah & kota tempat tinggal kita yang lebih baik. Kami menyebut diri kami “Sesak Nafas 01″

Kenapa sesak nafas??

Simple question and with a simple answer…

Dalam konteks Planologi…

Kota tanpa taman sama dengan sesak nafas…

Bayangkan kalau pada sebuah ruang, wilayah, atau kota, semua terdiri dari bangunan padat, diiringi oleh berbagai kendaraan bermotor, dan polusi di mana-mana… Masih tidak peduli dengan taman kota??

Silahkan renungkan….

about 01 nya,, simple juga…itu karena kami kelompok 01 dalam tugas mata kuliah teknik komunikasi jurusan perencanaan wilayah dan kota UNDIP…

Well,that’s our introduction… Semoga blog ini bermanfaat!

Keep breathing….

Comments (1) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.